Mari Lawan Persekusi

IlustrasiMnculnya kasus persekusi merupakan fenomena lanjutan terjadinya polarisasi di masyarakat seusai pilkada DKI. Pemerintah dan elite politik gagal merealisasikan rekonsiliasi dua kubu di masyarakat. Kelompok pro dan anti terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) seolah menjadi subkultur tersendiri. Sekalipun intensitas pertentangan mereka belakangan mengendur.
Sesuai dengan amanat konstitusi, negara berkewajiban melindungi hak-hak warga negara dari segala ketakutan. Nah, maraknya kasus persekusi juga tak terlepas dari lambannya respons negara (baca: pemerintah) dalam mengantisipasi potensi konflik sisa-sisa ketegangan setelah pilkada DKI.

Upaya rekonsiliasi tampaknya hanya terjadi di tingkat elite. Sebaliknya, di tataran akar rumput, sebagian kelompok masih belum lega atas hasil pilkada. Sentimen berlatar suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) masih mendominasi motif terjadinya kasus persekusi. Continue reading

Advertisements

NABIKU MASIH HIDUP DI PUNCAK SAN FRANSISCO Catatan hari ke 42 (San Fransisco, AS_Rabu, 12 April 2017) Perjalanan Tour Dakwah Amerika Canada

Rabu (14/4) hampir tengah malam baru sampai di penginapan di San Fransisco, California. Senang berada di pusat kota markas perusahaan facebook, yahoo, google, dan apple yang telah akrab puluhan tahun dalam kehidupan kita. Mengapa larut malam? Ya, karena penundaan keberangkatan pesawat dari Colorado, dan jarak bandara San Fransisco dengan penginapan ternyata jauh, sekitar 85 km.
“Pak, jika tidak keberatan, saya mohon dibelikan obat batuk,” pinta saya pada Bapak Didit Adimarta yang menjemput saya di bandara. Tiga hari sebelumnya, saya telpon istri saya, “Rasanya ada tanda-tanda saya akan kena flu.” Benar, pada malam terakhir di Colorado, saya batuk-batuk, tapi masih ringan. Tapi, di ruang tunggu Gate A36, batuk saya semakin sering dan kencang sampai ulu hati saya kaku. “This is for you,” kata gadis cantik 4 tahun dari Nepal di ruang tunggu berlari memberi saya permen karet yang sudah dibukakan bungkusnya. “Your daughter is really funny and helpful,” puji saya kepada ibunya yang duduk di sebelah saya. Batuk lebih menggawat di atas pesawat, sehingga dua penumpang di sebelah saya menaruh iba dan mempersilakan saya pindah ke tempat duduk dekat lorong. Segenggam tissue yang saya bawa dari toilet tidak cukup mengusap ingus dan semprotan air dari mulut. Rasanya ada yang sobek di tenggorokan dan saya benar-benar malas bicara, termasuk kepada pramugari yang menawarkan minuman. Seumur hidup, saya belum pernah merasakan batuk sesering dan sekencang itu. Continue reading

FASHION MAHASISWI MUSLIM

DSC_0229+Masa yang semakin berkembang, teknologi yang semakin canggih hingga layaknya tidak ada sekat pembatas apapun untuk saling berinteraksi dengan manusia di belahan dunia manapun, hal tersebut membuat umat manusia secara perlahan melepaskan satu persatu jubah kebesarannya. Za…jubah kebesaran yang selama ini amat di bangga-banggakan, karena jubah kebesaran itu adalah sebuah simbol, tanda dan pembeda antar manuasia dari belahan dunia manapun, tidakkah engkau tahu makna dari jubah kebesaran itu? Jubah kebesaran itu adalah budaya.Budaya memang sangat berpengaruh untuk membedakan antara bangsa, ras dan golongan. Baik bangsa barat dan timur, karena dengan budaya mereka akan tahu siapa kita, dengan budaya kita bisa melestarikan warisan leluhur kita, kita bangga dengan apa yang kita miliki walaupun berupa hal yang sederhana. Mulai dari budaya dalam bergaul yang mana jika kita teliti budaya bangsa barat cenderung bersifat individualisme dan freesex, bayangkan saja pemandangan yang tidak patut dipertontonkan didepan khalayak ramai malah sudah menjadi pemandangan biasa dan bisa dinikmati kapanpun dan dimanapun tidak sampai disitu budaya berpenampilan ala barat cenderung mempertontonkan bagian-bagian lekuk tubuhnya dan dalam hal bermasyarakat, kaum barat cenderung bersifat individualisme alias lo za lo, gue za gue tanpa memperdulikan keadaan sekitar, entah apapun keadaannya seakan akan mereka selalu bilang emang gue fikrin ? . Hal tersebut sangat berbeda dengan kondisi yang ada di negri kita, Karena kita tahu sendiri bahwa negri kita telah masyhur dengan rasa sosialisnya yang tinggi, keramahan, kesopanannya dan rasa tenggang rasanya, Bayangkan saja dalam satu negara terdapat kurang lebih 6 agama yang berbeda dan bisa hidup secara berdampingan, terdapat beribu-ribu suku yang mepunyai budaya dan gaya hidup yang berbeda tetapi bisa hidup dalam satu negara dengan rukun dan damai Sedangkan dalam berpenampilan cenderung lebih rapi karena mayoritas masyarakat indonesia memeluk agama islam jadi budaya jilbaberpun sudah menjadi mode terbaru negri kita. Tetapi budaya khas islam yang telah kita bangga-banggakan berubah menjadi hal sangat ironis sekali saat ini, karena identitas kita tergadaikan hanya dengan alasan modernisasi contoh yang amat sangat mencolok saat ini adalah budaya berpakaian kita karena budaya kita dalam berbusana sudah benar-benar terkontaminasi dengan budaya orang barat. Sebenarnya alasan modernisasi bukanlah alasan yang pas, untuk memporak porandakan budaya yang selama ini telah mengakar pada jiwa kita, modernitas adalah cukup dengan memperbaiki yang lama tanpa benar-benar menanggalkannya dengan mengemas dengan mode yang semakin indah tanpa menggatinya dengan yang baru. Continue reading