NABIKU MASIH HIDUP DI PUNCAK SAN FRANSISCO Catatan hari ke 42 (San Fransisco, AS_Rabu, 12 April 2017) Perjalanan Tour Dakwah Amerika Canada

Rabu (14/4) hampir tengah malam baru sampai di penginapan di San Fransisco, California. Senang berada di pusat kota markas perusahaan facebook, yahoo, google, dan apple yang telah akrab puluhan tahun dalam kehidupan kita. Mengapa larut malam? Ya, karena penundaan keberangkatan pesawat dari Colorado, dan jarak bandara San Fransisco dengan penginapan ternyata jauh, sekitar 85 km.
“Pak, jika tidak keberatan, saya mohon dibelikan obat batuk,” pinta saya pada Bapak Didit Adimarta yang menjemput saya di bandara. Tiga hari sebelumnya, saya telpon istri saya, “Rasanya ada tanda-tanda saya akan kena flu.” Benar, pada malam terakhir di Colorado, saya batuk-batuk, tapi masih ringan. Tapi, di ruang tunggu Gate A36, batuk saya semakin sering dan kencang sampai ulu hati saya kaku. “This is for you,” kata gadis cantik 4 tahun dari Nepal di ruang tunggu berlari memberi saya permen karet yang sudah dibukakan bungkusnya. “Your daughter is really funny and helpful,” puji saya kepada ibunya yang duduk di sebelah saya. Batuk lebih menggawat di atas pesawat, sehingga dua penumpang di sebelah saya menaruh iba dan mempersilakan saya pindah ke tempat duduk dekat lorong. Segenggam tissue yang saya bawa dari toilet tidak cukup mengusap ingus dan semprotan air dari mulut. Rasanya ada yang sobek di tenggorokan dan saya benar-benar malas bicara, termasuk kepada pramugari yang menawarkan minuman. Seumur hidup, saya belum pernah merasakan batuk sesering dan sekencang itu.
Di sela-sela batuk, secara tidak sadar saya mengucapkan shalawat, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad,” tanpa memikirkan apa hubungan antara shalawat dan batuk, karena spontan. Saya kehabisan doa, termasuk semua yang tertulis dalam buku saya, Doa-doa Keluarga Bahagia yang sudah beredar. Saya lalu menutup mata, menunduk, dan berdoa secara spontan, “Wahai Allah, benarkah Nabi-Mu tidak “mati” dan masih “hidup”? Jika ya, aku meminta kepada-Mu melalui Nabi yang demi Allah saya cintai itu untuk meredakan batuk saya”. Setelah batuk lagi, saya menambah jeritan sekenanya, karena gugup, “Oh Allah, Engkau penguasa semua malaikat. Perintahkan Malaikat Mikail untuk datang ke pesawat ini dan mengusap tenggorokanku agar reda batukku.” Saya lalu mengusapkan tangan di bagian belakang kursi depan untuk tayamum, karena waktu maghrib telah tiba, sekalian shalat maghrib dan isyak. Believe it or not, usai salam penutup shalat isyak itulah, batuk reda dan tiba-tiba tertidur lelap, amat pulas, bahkan mungkin mendengkur, seperti biasanya. “I am sorry,” pinta penumpang bule di sebelah saya yang akan lewat karena lampu sudah menyala tanda pesawat sudah landing. Ketika bangun dari kursi yang sabuk pengamannya lupa belum saya lepas itulah hati saya berbisik lembut, “Subhanallah, Nabiku benar-benar masih “hidup,” “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”
Terbayangkah di benak Anda, bahwa firman Allah dan titah Nabi-Nya bisa terdengar di puncak bukit San Fransisco? “Pak ustad, makan dulu, lalu kita berangkat pengajian di puncak Denvil,” kata Ibu Pianti Martakusuma, istri Bapak Tosa Surahmat, tuan rumah tempat saya menginap. Di lantai bawah saya dengar sudah ada ibu lain yang akan menemani ke tempat pengajian. “Pak ustad di belakang. Saya yang driver ditemani Ibu Viona di depan,” kata ibu alumni fakultas kedokteran Bandung itu sambil memasang kursi tengah mobil untuk dua anak bayi, sedangkan anak yang usia 3 tahun, Zaki di kursi belakang dengan saya. Sambil mengusap-usap sayang kepala Zaki yang menahan tangis meminta dekat ibunya, saya dengarkan cerita ibu Pia yang sedang mengemudikan mobil dengan lincahnya tentang kehidupan Islam di San Fransisco.
“Teh, sejak kasus-kasus kekerasan kepada pemakai jilbab, saya takut keluar rumah,” kata ibu Viona kepada ibu Pia yang sama-sama dari Jawa Barat. “Kenapa takut, baca saja, ‘Bismillahilladzi la yadhurru ma’asmihi’ dan seterusnya. Itu dari Nabi lho, dan itu pasti aman,” jawab ibu Pia yang siang itu juga akan mengantar anaknya check-up kesehatan sebagaimana diwajibkan oleh pihak sekolah setiap tahunnya. Saya sangat hafal doa itu, karena rutin saya baca, bahkan masih ingat ketika mengoreksi teks Arabnya bersama Syamsu Riyanto, mahasiswa the best di UINSA. “Be happy, don’t worry, teh,” tambahnya meyakinkan. “Bagi saya, kehadiran Trump sebagai presiden merupakan rahmat lho bagi umat Islam. Semakin banyak orang Amerika yang bertanya-tanya tentang Islam kepada saya dan anak saya di sekolah, bahkan pengunjung non muslim untuk mengetahui Islam di masjid semakin banyak,” katanya dengan pikiran positif, tidak seperti kebanyakan orang yang berfikir negatif terhadap suatu realita.
Sampailah perjalanan ke daerah pegunungan dengan sedikit belok dan menanjak. “Itu pak, sapi, kambing, keledai, dan kuda-kuda sudah menyambut kedatangan pak ustad,” kata Ibu Pia meledek saya, dan menambahkan daerah ini untuk lahan peternakan. Sinar matahari pagi itu semakin menghijaukan pegunungan yang terselimuti rumput dan siap untuk dinikmati semua ternak. Saya lihat juga seorang wanita cantik berpakaian koboi menunggang kuda dengan santai melewati jalan raya dan memeriksa peternakan sambil melambaikan tangan, isyarat good morning untuk kami dalam mobil. “Bu mohon berhenti, saya ingin mengambil gambar koboi lembut itu,” hanya kata hati karena tidak berani saya ucapkan kepada dua ibu di depan saya, sebab saya dianggap mengambil gambar orangnya, bukan…kudanya, ha ha

“Silakan turun dulu pak dan langsung masuk rumah, karena dingin,” pinta bu Pia yang katanya agak merinding juga memarkir mobil dekat jurang. Tempat pengajian ini satu-satunya rumah, tanpa tetangga satupun. “Lho itu kan tetangga saya pak,” kata ibu Arie Quick, wanita Jogja yang dinikahi bule muslim, pegawai perusahaan pertanian Jepang sambil menunjuk tiga rumah yang hanya terlihat kecil di puncak yang lain. Sambil mendengarkan suara anjing herder yang menggonggong di belakang rumah, saya melihat rak buku ukiran jepara warna-warni coklat tua, hijau dan kuning keemasan di ruang tamu yang berlantai karpet untuk persiapan pengajian dengan sound system mungil di pojok ruangan. Saya amat terperanjat, tiba-tiba saja mata saya pertama tertuju buku tebal dalam bahasa Inggris bersampul putih dengan judul merah: Salawat and Du’a. Dalam hati, “Saya bisa sampai di San Fransisco dengan shalawat di pesawat, dan sekarang saya diingatkan lagi di puncak ini dengan shalawat. Apa maksud Allah membuat skenario ini?” Buku itu diapit Kitab Suci Al Qur’an dan Terjemahnya dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, baik cetakan Indonesia maupun cetakan Saudi Arabia. Masih banyak lagi buku tentang islam di samping deretan lebih panjang buku-buku ensiklopedia. Sayang, saya tidak bisa bertemu langsung Mr. Quick, suami ibu Arie, karena sedang mengerjakan proyek di luar kota

Bu, jangan sampai anjing lepas dan masuk ke ruang pengajian seperti yang lalu,” pinta seorang ibu kepada Ibu Arie Quick, tuan rumah. Nothing happened by chance (tak ada satupun kejadian secara kebetulan). Seorang ibu yang ditunjuk membaca Al Qur’an sebagai pembuka acara juga memilih Surat Al Qalam yang antara lain berisi, “Wainnaka la’ala khuluqin ‘adhim (dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung) (QS. 68:04). “Pak ustad, dari 16 pilihan topik yang ditawarkan, ibu-ibu memilih topik Sound Healing by Al Qur’an untuk pengajian pagi setengah siang ini,” pinta pembawa acara. “Mohon dijelaskan kaitan membaca Al Qur’an dengan pengobatan hati dan fisik orang, agar ibu-ibu lebih semangat mengikuti anjuran Rasulullah untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an,” tambahnya dengan menyodorkan mikrofon kepada saya

Ibu-ibu terlihat sangat riang bersamaan dengan keceriaan beberapa kelinci yang berkejaran di atas rumput hijau di balik jendela. Jadi, bukan karena melihat saya sebagai pria tertampan, karena satu-satunya lelaki pada saat itu. “Silakan ibu mendengarkan saya sambil makan tahu isi dan pisang goreng hangat, sedangkan saya yang bicara,” kata saya berhumor untuk memulai ceramah. Setelah mengutip QS. Al Isra’ [17]: 82, saya menyampaikan terlebih dahulu hasil eksperimen Dr. Yusri Dinuth di RS Marinir Cilandak Jaksel, yang mengobati pasien pasca operasi dengan lagu kesukaan mereka. Musik diyakini dapat merangsang aktifasi otak untuk menimbulkan rasa senang dan sugesti kebahagiaan yang amat dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Apalagi sang dokter bersedia lebih perhatian dan akrab, sehingga semua pasien bisa curhat sepuasnya. Hasilnya, pasien dengan perlakuan demikian lebih cepat proses sembuhnya daripada yang lain.
“Ibu-ibu, terbukti kan? Lagu kroncong, jazz, dangdut ciptaan manusia bisa mempercepat kesembuhan, maka apalagi Al Qur’an yang dibaca di telinga pasien,” pinta saya membandingkan. Saya menambahkan, setiap huruf Al Qur’an mengandung 10 energi positif (hasanah) sebagaimana dikatakan Nabi SAW, dan lebih-lebih jika dilagukan dengan suara yang merdu sesuai anjuran Nabi SAW juga, “Bukanlah pengikutku orang yang tidak melagukan Al Qur’an” ( HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Banyak pertanyaan ibu-ibu tentang kehidupan Nabi SAW dan keagungan Al Qur’an. Hanya satu pertanyaan yang unik, “Hidup dan mati saya untuk Allah. Apakah saya boleh mendonorkan semua organ tubuh saya setelah mati kelak? Sebab di Amerika banyak orang melakukan donor kulit, mata, ginjal, dan sebagainya?”
Selesai membaca doa penutup acara, sambil bersiap menikmati bakso, soto ayam, rujak manis dengan bahan nanas, apel, dan..(heran kan?)….irisan ubi mentah, saya merenung, “Wahai Allah, terima kasih, ketika aku di pesawat, Engkau yakinkan diriku bahwa Nabi-Mu masih “hidup,” sekarang Engkau tunjukkan pula bahwa ia juga masih “hidup” bahkan wewangiannya semerbak harum di puncak Denvil San Fransico.” Sekarang, giliran kita bertanya kepada diri sendiri, “Masih hidupkah Nabi dalam kalbu kita dan anak-anak kita?” (Puncak Denvil, San Fransisco, Kamis, 13-4-2017).

Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag (guru besar ilmu dakwah UINSA )

SUMBER

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s