Kader Golkar minta KPK kejar pimpinan dan anggota DPR di kasus e-KTP

Kader Golkar minta KPK kejar pimpinan dan anggota DPR di kasus e-KTPSenin, 13 Maret 2017 09:32 WIB | 617 Views
Pewarta: Rangga Pandu Asmara JinggaJakarta

(ANTARA News) – Kader muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia meminta KPK tidak mundur atau surut dalam mengungkap kasus dugaan korupsi dalam proyek pengadaan KTP elektronik yang diduga melibatkan nama-nama besar.

“Saya kira KPK tidak perlu mundur dan surut, terhadap bantahan yang dilakukan oleh para pimpinan dan anggota DPR yang disebut-sebut namanya di dalam dakwaan yang dibacakan JPU terkait kasus dugaan korupsi proyek pengadaan KTP elektronik,” kata Doli Kurnia di Jakarta, Senin. Continue reading

Advertisements

Selain Fatmawati, wanita ini juga penjahit bendera era kemerdekaan

https://cdn.brilio.net/news/2017/06/01/126691/Brilio.net – Kalau membaca sejarah Indonesia 70 tahun silam saat Indonesia merebut kemerdekaan, sosok Fatmawati memiliki peran penting. Pasalnya dirinya lah saksi sejarah yang menjahit sang saka Merah Putih yang kini menjadi bendera kebangsaan Indonesia.

Namun, tahukah kamu. Bahwa ada sosok Ibu Fatmawati lain di Indonesia bagian timur. Ia adalah Amina Sabtu, merupakan penjahit bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan sekelompok pemuda pejuang di Tanjung Mareku, Pulau Tidore, pada 18 Agustus 1946.

Nenek Na, boleh kita sebut sebagai “Fatmawati-nya Indonesia Timur” pasalnya ia salah satu saksi hidup sekaligus figur penting dalam terbentangnya wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bendera hasil jahitan Nenek Na itu menjadi bendera Merah Putih pertama yang berkibar di Indonesia Timur. Continue reading

Masih berseragam, para polwan ini ngabuburit jadi guru ngaji

Brilio.net – Polisi tidak saja bertugas untuk menjaga keamanan, tapi di bulan Ramadan ini polisi juga menjalankan tugas mulia berkaitan dengan pendidikan keagamaan. Hal ini seperti yang dilakukan para polwan di Polres Karanganyar, Jawa Tengah. Selama Ramadan, para polwan memiliki agenda baru sebagai tenaga pengajar mengaji Alquran bagi anak-anak di sekitar Markas Polres.

Kegiatan ini rutin dilakukan sebelum berbuka puasa di Masjid Al Huda, di kompleks Polres Karanganyar. Kegiatan yang dimulai sejak awal puasa ini, dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok membaca surat-surat pendek Alquran, dan satu lagi membaca huruf Arab.

Bripda Nurindah, salah satu anggota polwan yang mengajar anak-anak membaca Alquran mengatakan, kegiatan ini sesuai dengan keinginannya, yaitu mengajar Alquran kepada anak-anak di waktu luang. “Kami menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa dengan hal positif. Kami senang bisa mengajar adik-adik. Supaya mereka bisa mengaji lebih baik. Ini dilakukan setiap sore selama Ramadan, namun apabila hari libur kegiatan mengaji dilaksanakan di pagi hari,” kata Bripda Nurindah seperti dikutip dari akun Instagram @polreskaranganyar, Senin (5/6). Continue reading

Pesantren Sunan Drajat Dikenal Pemimpin Hindu Hingga Politisi

Menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden 2009, Pondok Pesantren Sunan Drajat di Paciran, Lamongan, Jawa Timur semakin ramai dikunjungi para politisi.

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu, juga melakukan safari politik di Pesantren yang dipimpin KH Abdul Ghofur itu.

Prabowo Subianto, yang belakangan sering tampil lewat iklan layanan masyarakat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), bahkan tidak hanya sekali berkunjung ke pesantren yang memiliki 8.000 santri itu.

“Ponpes kami terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang dari mana asal parpolnya,” kata Pimpinan Ponpes KH Abdul Ghofur kepada ANTARA News seusai menerima mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Selasa (29/4).

Sama halnya dengan Megawati Soekarnoputri, kunjungan Sutiyoso didahului dengan berdialog dengan para petani dan nelayan di wilayah Paciran dan sekitarnya.

Di Ponpes Sunan Drajat, Sutiyoso berkeliling asrama yang berdiri di atas tanah seluas 14 ha, melihat sumur peninggalan Sunan Drajat, yang berada di dalam Masjid, berziarah ke makam Sunan Drajat, hingga melihat tumbal Cakra yang ditanam di Masjid Induk Pesantren Sunan Drajat.

Tumbal cakra ditanam persis ditengah-tengah Masjid Induk dengan tanda warna hijau berdiameter sekitar 15 cm, menancap di keramik masjid.

Sejarah penanaman tumbal Cakra ini, sebagaimana diungkapkan Abdul Ghofur, atas inisiatif seorang pemimpin spiritual asal India yang beragama Hindu bernama, Parabhattaraka Shri Ananganandha Padha Theertha pada tahun 1999.

Berdasarkan versi pemimpin Hindu tersebut, konon sekitar 500 tahun yang lalu telah diadakan perjanjian antara tokoh Islam Syeh Subakir dengan pemimpin umat Hindu di India.

Perjanjian tersebut diantaranya berisi, “tanah Jawa yang semula masyarakatnya beragama Hindu diserahkan kepada tokoh Islam Syeh Subakir”.

“Bangunan masjid juga harus berdampingan dengan arsitektur umat Hindu yaitu menara, agar tanah Jawa bisa aman,” katanya.

Karena itu, setelah 500 tahun perjanjian itu harus diperbaharui dan pilihan lokasi pemasangan tumbal diletakkan di tempat peninggalan para wali yang masih tersisa.

“Kata pemimpin Hindu itu kalau tumbal tidak dipasang, akan terjadi bencana dan korbannya delapan juta orang di tanah Jawa akan meninggal,” katanya.

Meski sedang sakit, Parbhattaraka Shri Ananganandha Padha Theertha datang ke Pesantren untuk memasang tumbal Cakra. Dan peresmian tumbal Cakra, kata Abdul Ghofur, dilakukan langsung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasa menjabat sebagai Presiden RI.

Abdul Ghofur mengaku tidak tahu pasti tentang kebenaran tumbal Cakra itu. Karena kenyataannya di Indonesia secara beruntun telah terjadi berbagai bencana mulai gempa di Jawa Tengah, tsunami di Aceh, hingga lumpur Lapindo.

Masih berkaitan dengan bencana, ternyata dua tahun yang lalu utusan pemimpin Hindu di India tersebut melalui utusannya, Pidaharan datang ke pesantren. Pesannya, Abdul Ghofur diminta datang ke India, untuk meminta doa kepada seseorang yang doanya dianggap paling mujarab sedunia.

“Tujuannya agar tanah Jawa yang dulu masyarakatnya beragama Hindu bisa aman,” katanya. Abdul Ghofur yang setengah tidak percaya melapor kepada Sekkab Jawa TImur, Soekarwo, dan akhirnya ia berangkat ke India.

Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan di tengah hutan di perbatasan Pakistan, Abdul Ghofur dengan diantar pemimpin Hindu tersebut bertemu dengan seorang laki-laki berambut putih berbaju putih.

Melalui pemimpin Hindu tersebut, disampaikan permintaan doa keamanan di tanah Jawa. “Orang itu berulang kali hanya menjawab Ya Allah Ya Shomad yang artinya semua itu dari Allah,” kata Abdul Ghofur menirukan ucapan orang tua itu.

Pondok pesantran Sunan Drajat merupakan satu-satunya pesantren peninggalan wali di tanah Jawa yang masih tersisa. Sedangkan delapan wali lainnya, hanya menyisakan makam.

Dianggap satu-satunya peninggalan wali, karena hingga sekarang ini Ponpes Sunan Drajat, masih dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan belajar mengajar Agama Islam.

Mulai TK hingga Universitas dengan jumlah siswa dan mahasiswa sekitar 8.000 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dulu di sinilah Sunan Drajat mengajar para santrinya,” kata Abdul Ghofur kepada Sutiyoso yang diajak melihat masjid Sunan Ampel.

Abdul Ghofur mengungkapkan pesantren Sunan Drajat didirikan Sunan Drajat pada 1460.

Kini pesantren Sunan Drajat telah berubah menjadi pesantren megah, yang pembangunannya menghabiskan dana Rp150 miliar, termasuk di dalamnya pemancar radio FM.

Di samping membangun gedung sekolahan, gedung asrama para santri termasuk membangun Masjid Induk yang arsitekturnya mirip Taj Mahal. Para guru yang mengajar di pesantren itu juga mendapatkan fasilitas perumahan.

Prasarana dan sarana pendidikan di Pesantren Sunan Drajat, lanjut Abdul Ghofur, dibangun dari berbagi usaha yang dikembangkan pesantren, seperti usaha sirup Mengkudu, yang pemasarannya hingga ke Jepang, peternakan sapi, hingga pembuatan pupuk organik.

“Tidak ada sepeserpun yang menarik iuran dari wali murid,” ujarnya.

Abdul Ghofur juga sedang mengembangkan tanaman kemiri Sunan. Kemiri Sunan, katanya, bisa dimanfaatkan untuk BBM, lebih bagus dibandingkan dengan tanaman jarak.

“Kalau ini berhasil, Indonesia tidak harus mengambil migas dari dalam perut bumi, tetapi memproses dari kemiri Sunan yang usianya bisa ratusan tahun, ” katanya. (*)

Wayan Suparta, Ukur Perubahan Iklim Sejak 2003 hingga ke Antartika

Wayan Suparta, Ukur Perubahan Iklim Sejak 2003 hingga ke AntartikaJakarta – Bumi semakin terasa panas akibat perubahan iklim. Kenaikan suhu ini pun membuat es di Antartika mencair.

Adalah Prof Wayan Suparta, seorang WNI yang merupakan pengajar sekaligus peneliti di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), tertarik untuk mengukur perubahan iklim. Dia pun terbang ke Antartika demi menemukan jawaban dan solusi atas perubahan iklim global.

“Tren perubahan iklim global dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan perubahan suhu yang sangat signifikan. Peningkatan ini juga memberi indikasi bahwa bagian bumi selatan (Kutub Selatan atau Antartika), suhu telah meningkat dari tahun 1950 hingga 2016 dari 0,1°C hingga melebihi 0,5°C,” ujar Prof Wayan dalam tulisannya berjudul ‘Penyelidikan Sambaran Petir di Antartika’, pada Februari 2017.
Wayan menyelidiki iklim sejak 2003 sampai akhirnya menjelajahi Antartika pada tahun 2007 hingga kini. Proyek penelitian itu terselenggara atas kerja sama Malaysian Antarctic Research Programme (MARP) dengan Antarctica New Zealand. Continue reading

Mari Lawan Persekusi

IlustrasiMnculnya kasus persekusi merupakan fenomena lanjutan terjadinya polarisasi di masyarakat seusai pilkada DKI. Pemerintah dan elite politik gagal merealisasikan rekonsiliasi dua kubu di masyarakat. Kelompok pro dan anti terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) seolah menjadi subkultur tersendiri. Sekalipun intensitas pertentangan mereka belakangan mengendur.
Sesuai dengan amanat konstitusi, negara berkewajiban melindungi hak-hak warga negara dari segala ketakutan. Nah, maraknya kasus persekusi juga tak terlepas dari lambannya respons negara (baca: pemerintah) dalam mengantisipasi potensi konflik sisa-sisa ketegangan setelah pilkada DKI.

Upaya rekonsiliasi tampaknya hanya terjadi di tingkat elite. Sebaliknya, di tataran akar rumput, sebagian kelompok masih belum lega atas hasil pilkada. Sentimen berlatar suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) masih mendominasi motif terjadinya kasus persekusi. Continue reading

NABIKU MASIH HIDUP DI PUNCAK SAN FRANSISCO Catatan hari ke 42 (San Fransisco, AS_Rabu, 12 April 2017) Perjalanan Tour Dakwah Amerika Canada

Rabu (14/4) hampir tengah malam baru sampai di penginapan di San Fransisco, California. Senang berada di pusat kota markas perusahaan facebook, yahoo, google, dan apple yang telah akrab puluhan tahun dalam kehidupan kita. Mengapa larut malam? Ya, karena penundaan keberangkatan pesawat dari Colorado, dan jarak bandara San Fransisco dengan penginapan ternyata jauh, sekitar 85 km.
“Pak, jika tidak keberatan, saya mohon dibelikan obat batuk,” pinta saya pada Bapak Didit Adimarta yang menjemput saya di bandara. Tiga hari sebelumnya, saya telpon istri saya, “Rasanya ada tanda-tanda saya akan kena flu.” Benar, pada malam terakhir di Colorado, saya batuk-batuk, tapi masih ringan. Tapi, di ruang tunggu Gate A36, batuk saya semakin sering dan kencang sampai ulu hati saya kaku. “This is for you,” kata gadis cantik 4 tahun dari Nepal di ruang tunggu berlari memberi saya permen karet yang sudah dibukakan bungkusnya. “Your daughter is really funny and helpful,” puji saya kepada ibunya yang duduk di sebelah saya. Batuk lebih menggawat di atas pesawat, sehingga dua penumpang di sebelah saya menaruh iba dan mempersilakan saya pindah ke tempat duduk dekat lorong. Segenggam tissue yang saya bawa dari toilet tidak cukup mengusap ingus dan semprotan air dari mulut. Rasanya ada yang sobek di tenggorokan dan saya benar-benar malas bicara, termasuk kepada pramugari yang menawarkan minuman. Seumur hidup, saya belum pernah merasakan batuk sesering dan sekencang itu. Continue reading

FASHION MAHASISWI MUSLIM

DSC_0229+Masa yang semakin berkembang, teknologi yang semakin canggih hingga layaknya tidak ada sekat pembatas apapun untuk saling berinteraksi dengan manusia di belahan dunia manapun, hal tersebut membuat umat manusia secara perlahan melepaskan satu persatu jubah kebesarannya. Za…jubah kebesaran yang selama ini amat di bangga-banggakan, karena jubah kebesaran itu adalah sebuah simbol, tanda dan pembeda antar manuasia dari belahan dunia manapun, tidakkah engkau tahu makna dari jubah kebesaran itu? Jubah kebesaran itu adalah budaya.Budaya memang sangat berpengaruh untuk membedakan antara bangsa, ras dan golongan. Baik bangsa barat dan timur, karena dengan budaya mereka akan tahu siapa kita, dengan budaya kita bisa melestarikan warisan leluhur kita, kita bangga dengan apa yang kita miliki walaupun berupa hal yang sederhana. Mulai dari budaya dalam bergaul yang mana jika kita teliti budaya bangsa barat cenderung bersifat individualisme dan freesex, bayangkan saja pemandangan yang tidak patut dipertontonkan didepan khalayak ramai malah sudah menjadi pemandangan biasa dan bisa dinikmati kapanpun dan dimanapun tidak sampai disitu budaya berpenampilan ala barat cenderung mempertontonkan bagian-bagian lekuk tubuhnya dan dalam hal bermasyarakat, kaum barat cenderung bersifat individualisme alias lo za lo, gue za gue tanpa memperdulikan keadaan sekitar, entah apapun keadaannya seakan akan mereka selalu bilang emang gue fikrin ? . Hal tersebut sangat berbeda dengan kondisi yang ada di negri kita, Karena kita tahu sendiri bahwa negri kita telah masyhur dengan rasa sosialisnya yang tinggi, keramahan, kesopanannya dan rasa tenggang rasanya, Bayangkan saja dalam satu negara terdapat kurang lebih 6 agama yang berbeda dan bisa hidup secara berdampingan, terdapat beribu-ribu suku yang mepunyai budaya dan gaya hidup yang berbeda tetapi bisa hidup dalam satu negara dengan rukun dan damai Sedangkan dalam berpenampilan cenderung lebih rapi karena mayoritas masyarakat indonesia memeluk agama islam jadi budaya jilbaberpun sudah menjadi mode terbaru negri kita. Tetapi budaya khas islam yang telah kita bangga-banggakan berubah menjadi hal sangat ironis sekali saat ini, karena identitas kita tergadaikan hanya dengan alasan modernisasi contoh yang amat sangat mencolok saat ini adalah budaya berpakaian kita karena budaya kita dalam berbusana sudah benar-benar terkontaminasi dengan budaya orang barat. Sebenarnya alasan modernisasi bukanlah alasan yang pas, untuk memporak porandakan budaya yang selama ini telah mengakar pada jiwa kita, modernitas adalah cukup dengan memperbaiki yang lama tanpa benar-benar menanggalkannya dengan mengemas dengan mode yang semakin indah tanpa menggatinya dengan yang baru. Continue reading